Ironi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia

Isu tentang penggunaan energy Nuklir sebagai sumber energy listrik di Negara kita sudah lama menjadi pro dan kontra. Kelompok yang mendukung konservasi energy nuklir ini berpendapat bahwa dengan energy Nuklir maka jumlah emisi karbon yang mencemari atmosfer bumi ini dapat dikurangi karena nuklir tidak menghasilkan sisa pembakaran karbon seperti bahan bakar lainnya, misalnya batu bara dan minyak bumi (sebagai catatan jika limbah nuklir saat ini belum dapat di daur ulang dan dihilangkan radiasinya). Mereka pun berpendapat bahwa dengan penggunaan Energi Nuklir ini dapat menghasilkan jumlah Watt listrik yang berlipat ganda dan tentu saja lebih murah dibanding dengan penggunaan sumber energy lainnya.

Kelompok yang kontra dengan penggunaan Nuklir sebagai sumber penghasil energy listrik pun memiliki pendapat sendiri tentang penolakan mereka. Energi Nuklir merupakan sumber energy berbahaya yang jika tidak dikelolah dengan aman akan membahayakan mahluk hidup terutama manusia dengan radiasinya yang mematikan. Indonesia belum memiliki Sumber Daya Manusia yang mampu mengolah Energi nuklir ini secara aman. Dan satu hal yang paling dikhawatirkan yakni bangsa Indonesia belum memiliki sense of safety yang tinggi terhadap bahaya radiasi Nuklir ini.

Bocornya Reaktor Nuklir Fukushima di Jepang benar-benar merupakan pukulan telak bagi para pendukung penggunaan Energi Nuklir di Negara ini. Bagaimana tidak, Negara semaju jepang dengan tingkat penguasaan teknologi tinggi nomor satu di dunia kewalahan dengan musibah yang terjadi 12 maret 2011 lalu. 120 ribu penduduknya harus diungsikan menjauhi Zona radiasi nuklir yang membahayakan hidup mereka. Ratusan orang sudah terpapar radiasi secara langsung. Walaupun kejadian ini tidak separah kejadian di Chernobyl Ukraina namun apa yang terjadi sungguh menjadi tanda Tanya, apakah Negara kita sudah siap dengan segala resiko terburuk dampak dari energy nuklir ini?

Beberapa hal yang menjadikan energy nuklir sebagai sumber energy listrik perlu dipertimbangkan lagi pembangunannya di Negara ini antara lain.

  1. Adanya budaya korupsi yang masih sangat tinggi di Negara ini, utamanya pada pengadaan barang dan jasa dan pengajuan tender proyek. Apakah ada jaminan dari pemerintah bahwa anggaran untuk pembangunan PLTN benar-benar 100% untuk pembangunan PLTN dan tidak akan bocor kemana-mana? PLTN bukanlah proyek pembangunan jembatan dan sarana jalan atau gedung perkantoran yang dapat dipermainkan kualitas bahan bakunya untuk meraup untung sebanyak-banyaknya.
  2. Belum adanya keseriusan pemerintah untuk benar-benar memanfaatkan sumber energy yang melimpah di Negara kita ini. Pengembangan research dan penelitian masih setengah-setengah. Lembaga pendidikan dan penelitian masih kurang serius dan beberapa justru malah mengambil keuntungan dari dana research yang diberikan oleh pemerintah untuk penelitian yang kurang bermutu. Bayangkan sumber energy panas bumi, energy dari pasang surut gelombang air laut, energy solar, energy potensial dari aliran sungai untuk mikro hydro dan energy lainnya yang belum terjamah oleh para peneliti dan pengembang teknologi untuk dijadikan proyek serius konservasi energy di Negara ini.Penghargaan terhadap SDM yang bermutu masih sangat kurang di Negara ini. Banyak dari orang-orang berkualitas akhirnya lari ke Negara lain untuk berkarya, karena untuk mengembangkan diri dengan fasilitas minim sangat tidak akan mungkin dilakukan. Apakah kita akan memakai SDM dari Negara lain yang notabene tidak peduli akan resiko nuklir ini pada rakyat Indonesia. Jika terjadi kecelakaan mereka langsung cabut dengan pesawat jet ke Negara mereka.
  3. Kurangnya sosialisasi pemerintah terhadap pentingnya sense of safety dari masyarakat terhadap dampak terburuk dari penggunaan energy nuklir ini. Demikian pula kesiapan pemerintah untuk mengevakuasi warga apabila terjadi kebocoran radiasi, apakah sudah siap? Mengingat beberapa kejadian bencana seperti di manokwari dan pulau mentawai dimana bala bantuan sangat terlambat. Bayangkan jika reactor nuklir meledak, radiasi akan terjadi dalam hitungan jam bukan dalam hitungan minggu.

Jadi kapankah PLTN siap untuk dibangun di Indonesia? Jawabannya, saat kita  benar-benar siap  untuk menggunakannnya dan saat kita benar-benar membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: